
Biaya produksi film animasi bisa besar atau pun kecil. Namun, ada beberapa yang angka anggarannya bisa melebihi atau menyaingi film superhero. Meski begitu, tidak semua film ini tampil bagus di box office.
Film animasi biasanya dipasarkan untuk target keluarga. Dengan rating semua usia, film animasi punya cerita ringan, menyentuh, dan penuh pesan moral. Animasi yang bagus dan voice acting yang pas bakalan membuat film jenis ini moncer di bioskop.
Tapi, tidak semua film animasi ada di zona aman. Beberapa di antaranya justru zonk dan buntung di tengah jalan. Pemasukan dari box office yang mereka terima tidak sebanding dengan modal yang telah dikeluarkan studio pembuatnya.
Film animasi apa saja yang justru rugi setelah tayang di bioskop? Mengutip berbagai sumber, simak ulasannya berikut!
10. The Lord of the Rings: The War of the Rohirrim — 2024

Di antara judul di daftar ini, The Lord of the Rings: The War of the Rohirrim punya anggaran produksi paling kecil. Film ini dibuat dengan anggaran sekitar USD30 juta (Rp523,3 miliar), menurut Collider. Tapi, pendapatan mereka di box office hanya mencapai USD20,7 juta (Rp361 miliar).
Hasil itu menjadikan The War of the Rohirrim sebagai seri The Lord of the Rings paling rugi dan nggak laku. Kurangnya promosi ditambah tidak adanya karakter ikonik macam hobbit, penyihir, atau yang lainnya, membuat film ini kurang menarik bagi penggemar. Belum lagi, animasi film ini dinilai tidak konsisten dan dibuat demi mempertahankan hak intelektual yang saat ini dipegang Warner Bros. Discovery.
9. Transformers One — 2024

Pendapatan Transformers One di box office mencapai USD145 juta (Rp2,5 triliun). Tapi, secara bisnis, film ini jeblok karena tidak bisa mengembalikan 2,5 kali modal yang dikeluarkan. Universal Pictures merogoh kocek hingga USD75 juta (Rp1,3 triliun) untuk memproduksi film tersebut.
Transformers One mendapatkan banyak pujian atas cerita, animasi, dan penyutradaraannya. Tapi, film ini salah target dengan menyasar anak-anak sebagai pasarnya. Selain itu, trailer dan iklannya yang dianggap cringe gagal menarik minat orang dewasa untuk menonton film ini.
8. Wonder Park — 2019

Menurut The Numbers, Wonder Park dibuat dengan anggaran USD100 juta (Rp1,74 triliun). Namun, besarnya biaya produksi itu tidak bisa ditutup dengan pendapatan di box office. Wonder Park hanya mampu memperoleh USD119 juta (Rp2,07 triliun).
Wonder Park tidak memenuhi ekspektasi produsernya. Film ini dikritik karena kurangnya kreativitas penyutradaraan setelah sutradaranya, Dylan Brown, dipecat di tengah-tengah pembuatan film karena dugaan pelecehan seksual. Wonder Park akhirnya tayang tanpa nama sutradara sehingga terlihat kacau.
7. Space Jam: A New Legacy — 2021

Space Jam: A New Legacy gagal menghidupkan hype yang pernah diciptakan pendahulunya pada 1996. Sekuel ini dibuat dengan anggaran USD150 juta (Rp2,6 triliun) dan menghasilkan USD167 juta (Rp2,9 triliun) di box office. Masih jauh dibandingkan film pertamanya yang meraup USD250 juta (Rp4,35 triliun) dari anggaran USD80 juta (Rp1,4 triliun).
Ada sejumlah faktor mengapa Space Jam: A New Legacy gagal menarik minat orang untuk menontonnya. Film ini dikritik karena terasa seperti konten pabrik buat Warner Bros. dan LeBron James dianggap tidak mampu membawa daya tarik seperti yang dilakukan Michael Jordan di film pertamanya. Selain itu, sekuel ini juga dirilis saat masih pandemi.
6. Wish — 2025

Wish digadang-gadang bakal menjadi primadona baru di jajaran princess Disney. Film ini dirilis untuk merayakan 100 tahun House of Mouse tersebut. Tapi, hasilnya sangat berbeda dengan harapan.
Dibuat dengan anggaran USD200 juta (Rp3,48 triliun), Wish meraup USD255 juta (Rp4,44 triliun) di box office alias gagal mencapai break-event-point (BEP) untuk bisa dikatakan untung. Film ini gagal karena marketing-nya yang buruk. Selain itu, Wish dianggap telah kehilangan keajaiban film klasik khas Disney.
5. Ruby Gillman: Teenage Kraken — 2023

Ruby Gillman: Teenage Kraken akan dikenang sebagai film animasi paling boncos di DreamWorks. Film ini hanya meraup USD46,2 juta (Rp804 miliar) di box office dari anggaran produksi USD70 juta (Rp1,2 triliun). Akibatnya, Universal rugi hingga USD80 juta (Rp1,4 triliun).
Kegagalan film ini disebabkan karena marketing-nya yang kacau. Hampir tidak ada promosi terkait keberadaan film ini. Sementara, premisnya terlalu umum sehingga gagal menarik minat penonton. Belum lagi, film ini dirilis pada musim panas di mana dia harus bersaing dengan Spider-Man: Across the Spider-Verse dan Elemental.
4. Elio — 2025

Elio mengalami penundaan hingga setahun untuk dirilis. Akibatnya, hype terhadap film ini sudah memudar ketika akhirnya tayang di bioskop. Kondisi ini sangat berpengaruh pada pendapatan dan kesuksesannya di box office.
Elio diproduksi dengan anggaran USD150 juta (Rp2,61 triliun). Namun, film ini hanya mampu meraup USD154 juta (Rp2,68 triliun). Elio gagal di box office karena buruknya marketing dan audiens lebih memilih menunggunya tayang di Disney+ ketimbang di bioskop.
3. Lightyear — 2022

Lightyear mendapatkan promosi besar-besaran dari Pixar dan Disney sebelum dirilis. Tapi, film ini malah disambut dengan skeptisme dan kebingungan di antara penggemar terkait ceritanya yang terasa nggak nyambung dengan Toy Story. Belum lagi, pengisi suara asli Buzz di Toy Story, Tim Allen, tidak hadir dan diganti Chris Evans.
Meski begitu, film ini tetap dirilis dan tidak mendapatkan sambutan yang terlalu hangat. Faktanya, Lightyear malah diboikot di beberapa negara, termasuk Indonesia, karena adegan LGBT-nya. Film ini “hanya” mampu meraup USD226 juta (Rp3,93 triliun) di box office dari anggaran USD200 juta (Rp3,47 triliun).
2. Strange World — 2022

Promosi dan marketing adalah dua hal yang penting dalam kesuksesan sebuah film di box office. Bagi Strange World, dua hal itu tidak ada. Bahkan, banyak penggemar yang tidak tahu kalau Disney merilis film animasi tersebut saat liburan Thanksgiving.
Akibatnya, Strange World pun tercatat sebagai film Disney paling rugi dalam 5 tahun terakhir. Film ini hanya menghasilkan USD73,6 juta (Rp1,28 triliun) di box office, sangat jauh dari biaya produksinya yang mencapai USD180 juta (Rp3,13 triliun). Disney dilaporkan menderita kerugian hingga USD200 juta (Rp3,47 triliun) karena kegagalan ini.
1. Missing Link — 2019

Kesalahan strategi marketing dan target audience harus dibayar mahal Studio Laika saat merilis Missing Link. Film ini menelan biaya besar hingga USD100 juta (Rp1,73 triliun) untuk produksi, tapi penampilannya memble di box office. Secara keseluruhan, Missing Link hanya meraup USD26,2 juta (Rp455,8 miliar) selama tayang di bioskop.
Missing Link gagal menarik perhatian penonton karena desain karakter dan cerita yang tidak nyambung. Desain karakternya yang imut bisa menarik anak-anak, tapi ceritanya yang penuh humor dewasa tentu bukan untuk mereka. Selain itu, animasi stop-motion yang dipakai Missing Link kurang diminati penonton umum yang lebih suka animasi CGI.
Catatan:
1. Daftar ini hanya memasukkan film-film yang tayang di bioskop, bukan yang langsung diputar di OTT.
2. Konversi USD ke Rp menggunakan kurs yang berlaku saat artikel ini dibuat tanpa menghitung inflasi.
