
Michael Jackson dilahirkan untuk menjadi seorang penghibur. Dia menjalani takdir itu dengan baik sehingga bisa mendapatkan titel sebagai King of Pop. Namun, di balik itu semua, trauma dan masa kecil yang buruk menghantuinya.
Michael tumbuh di tengah keluarga patriarkis. Ayahnya, Joe Jackson, berambisi untuk menjadikan anak-anaknya penyanyi terkenal. Dia bahkan memalsukan umur lima anak cowoknya agar bisa diorbitkan sebagai penyanyi.
Dengan ambisi besar Joe, sejak usia 5 tahun, Michael bergabung dengan empat abangnya, yaitu Jackie, Tito, Jermaine, dan Marlon di bawah bendera Jackson 5. Kelima cowok itu kemudian meroket menjadi grup vocal yang sangat popular di era 60-70-an. Michael, sebagai lead vocal, menjadi wajah grup tersebut.
Namun, di balik gemerlapnya panggung hiburan dan senyum yang selalu tampil di wajah para personelnya, mereka mengalami perlakuan kejam dari ayah mereka. Joe tak segan memukul atau menyabet mereka dengan ikat pinggang kalau Michael dan saudara-saudaranya melakukan kesalahan saat latihan.
Dalam wawancaranya dengan Oprah Winfrey pada 10 Februari 1993, Michael mengungkapkan penyiksaan yang dilakukan ayahnya untuk kali pertama kepada publik. Penyanyi itumengatakan, ketika gladi resik, dia mengalami penyiksaan fisik dan emosional. Michael mengaku sering dipukuli dan juga dipanggil dengan panggilan yang tidak mengenakkan.
Meski begitu, dia mengakui kedisiplinan yang diterapkan sang ayah merupakan salah satu kunci suksesnya. Semua yang terjadi membuatnya punya hubungan yang sulit dengan Joe.
Salah satu kakak Michael, Marlon, masih mengingat bagaimana Joe menggantung Michael dengan cara terbalik, kepala di bawah, dan memegang satu kakinya. Joe berulang kali memukuli Michael di tangan, punggung dan pantatnya. Joe juga tidak segan mendorong anaknya ke dinding.
Suatu malam, ketika Michael sedang tidur, Joe masuk ke kamar Michael lewat jendela, dengan mengenakan topeng yang mengerikan dan berteriak. Dengan cara itu, Joe mengklaim ingin mengajari anak-anaknya agar tidak membiarkan jendela kamar terbuka saat akan tidur. Sayangnya, cara itu justru membuat anaknya trauma.
Selama bertahun-tahun setelah kejadian itu, Michael mengaku sering mengalami mimpi buruk diculik dari kamarnya. Sementara, pada 2003, Joe mengaku pernah memukuli Michael saat masih kecil.
Dalam sebuah program berjudul Living with Michael Jackson, kepada Martin Bashir, Michael, yang akhirnya menutupi wajahnya dengan tangan dan mulai menangis, menceritakan bagaimana Joe duduk di kursi sembari membawa ikat pinggang saat dia dan saudara-saudaranya sedang latihan menyanyi.
“Kalau ada yang tidak melakukannya dengan benar, dia akan memukulimu, memukulimu sampai babak belur,” ujar Michael.
Ayahnya, menurut Michael, terlalu serakah untuk menjadikannya sebagai bintang dan tidak pernah memikirkan kebutuhannya sebagai anak kecil, bebas dan bermain dengan teman sebayanya. “Dia punya masalah berat dalam menunjukkan kasih sayang. Dia tidak pernah benar-benar mengatakan pada saya bahwa dia mencintai dan menyayangi saya. Dia juga tidak pernah benar-benar memuji saya,” papar Michael.
“Kalau saya melakukan pertunjukan yang sangat bagus, dia akan mengatakan pada saya bahwa itu adalah pertunjukan yang bagus. Dan, kalau saya melakukan show yang bagus, dia tidak akan mengatakan apa-apa,” sambungnya.
Michael iri dengan orang-orang yang mengalami masa kecil yang menyenangkan. Baginya, tak ada kenangan indah masa kecil yang tersisa selain pemaksaan untuk tetap tampil dari ayahnya.
“Kita semua adalah produk masa kanak-kanak kita. Tapi, saya adalah produk kurangnya masa kanak-kanak. Kalian yang mengenal Jackson 5 tentu tahu bahwa saya mulai tampil ketika masih berusia lima tahun dan sejak saat itu, saya tidak pernah berhenti menari dan menyanyi,” katanya.
“Tapi, meskipun tampil dan bermusik tak diragukan lagi tetap menjadi salah satu kesukaan terbesar saya, ketika masih kecil, saya ingin menjadi anak kecil yang biasa. Saya ingin membangun rumah pohon, melakukan perang balon air dan bermain petak umpet bersama teman-teman. Tapi, takdir berkata lain dan yang bisa lakukan adalah membayangkan tawa canda dan waktu bermain berada bersama saya,” paparnya.
Perlakuan kasar itu bahkan terus berlanjut hingga Michael dewasa. Penyanyi kelahiran 29 Agustus 1958 itu tidak tahan. Apalagi, dia juga diduga mengalami pelecehan seksual selama tinggal bareng orang tuanya.
Kesuksesan album Thriller membuat Michael berontak. Dia memutuskan hengkang dari rumah orang tuanya. Keputusan itu ditentang keluarga, terutama Joe. Tapi, Michael bergeming.
Pada 1988, dia membeli rumah yang kemudian dikenal sebagai Neverland Ranch. Di sana, Michael membangun istananya. Dia membuka pintu lebar-lebar untuk anak-anak yang ingin bermain di sana.
Meski sudah tidak lagi tinggal bersama, trauma masih membayangi hidupnya. Sepanjang umur, Michael tidak punya hubungan yang benar-benar baik dengan keluarganya. Dia bahkan heran dengan ibunya yang menoleransi sikap kasar ayahnya dan pernikahan gagal kakak-kakaknya.
“Aku tidak pernah mengerti keluarga saya sama sekali. Aku tidak akan pernah menikah. Menikah itu kacau. Saya tidak cukup percaya untuk bisa melakukannya,” keluhnya sekali waktu.
Selama tinggal di Encino, California, bersama keluarganya, Michael terlihat terisolasi dan putus asa. “Aku banyak menghabiskan waktu untuk bersedih. Aku merasa baik-baik saja dan tidak ada satu orang pun yang bisa menyentuhku,” ujarnya.
Trauma masa kecil itu berimbas pada hubungan interpersonal Michael. Dia bahkan terlihat kurang tertarik pada urusan cinta. Meski, banyak lagunya yang bercerita tentang kisah asmara.
Karena tidak pernah terlihat berpacaran dengan cewek, sempat muncul spekulasi kalau Michael adalah penyuka sesame jenis. Gosip itu bahkan muncul ketika dia berusia 19 tahun.
Saat itu, ada kabar kalau Michael akan menjalani operasi ganti kelamin dan menikahi actor ganteng bernama Clifton Davis. Kabar itu membuat Michael kecewa.
Michael dibesarkan di tengah keluarga yang yakin kalau homoseksualitas adalah dosa. Saat itu, baginya, tidak ada yang lebih buruk ketimbang orang yang mengira dia adalah seorang gay.
“Cuma tanya, kamu gay atau bukan?” tanya Taraborrelli ketika mewawancarai Michael pada 1979.
“Bukan, aku bukan gay. Aku akan stres berat karena dikira melakukan hubungan seks dengan pria. Tapi saya tidak melakukannya dan itulah kenyataannya,” jawab Michael.
Michael pun bisa membuktikan kalau dia bukan seorang gay. Pada era 90-an, pelantun Billie Jean itu terlihat menggandeng sejumlah wanita cantik. Dia bahkan menikahi anak Elvis Presley, Lisa Marie Presley.
Lisa mengatakan, Michael adalah seorang kekasih yang sangat luar biasa. Pernikahan itu dilakukan ketika Michael sedang menghadapi masalah dengan Jordie Chandler. Di saat yang sama, Michael mulai kecanduan obat peredam rasa sakit.
Dari awalnya menjadi teman, Lisa Marie dan Michael saling jatuh cinta. Lisa Marie mengaku ingin membantu Michael keluar dari masalah. “Saya merasa saya bisa melakukannya,” kata Lisa Marie.
Namun, pernikahan itu tidak bertahan lama. Mereka bubar dan Michael kemudian menikahi perawat dokter kulitnya, Debbie Rowe, yang tengah mengandung anak pertamanya. Dari pernikahan itu, mereka dikarunai dua anak, yaitu Michael Joseph Jackson, Jr. (Prince) dan Paris-Michael Katherine Jackson. Mereka bercerai pada 1998. Michael lalu mendapatkan anak ketiganya, Prince Michael Jackson II, pada 2002, yang tidak pernah diungkap siapa ibunya.
Trauma masa kecil membuat Michael berhati-hati dalam membesarkan anak-anaknya. Dia selalu terbayang-bayang cara ayahnya membesarkan dia dan saudara-saudaranya. Pelantun Heal the World itu pun tidak ingin mengulangi trauma yang sama pada anak-anaknya.
Hingga akhir hayatnya, Michael jarang membahas kekejaman Joe. Sepanjang hidupnya, tercatat hanya dua kali dia mengungkapkan perasaan dan pengalamannya saat mengalami kekerasan yang dilakukan ayahnya. Itu pun, tidak semua dia ungkapkan.
Bagi Michael, hubungannya dengan Joe sangatlah rumit. Di satu sisi, dia membenci perlakuan ayahnya. Tapi, di sisi lain, dia mengakui kalau kedisiplinan ekstrem yang diterapkan Joe memang membantunya meraih popularitas dan menjadikan dirinya sebagai bintang pop ternama di seantero jagat.
Dari semua itu, Michael sebenarnya masih takut pada sosok ayahnya. Dalam wawancaranya dengan Oprah, dia bahkan mengaku sering menangis karena ketakutan pada Joe. Dia juga mengatakan, ketakutan itu sangat parah sampai dia muntah kalau melihat ayahnya.
“Dia nggak pernah mendengar saya mengatakannya, maaf! Jangan marah pada saya!” ujar Michael dalam wawancara tersebut.
Bertahun-tahun kemudian, setelah menjadi seorang ayah, Michael mulai memandang keluarganya dengan cara berbeda. Dia yakin kalau Joe memang ketat demi kesuksesan dan perlindungan, bukan karena kekejaman. Dia mengakui merasakan apa yang dirasakan ayahnya setelah punya anak.
Sebelum meninggal dunia pada 2009, Michael berdamai dengan Joe. Dalam dokumenter Living with Michael Jackson yang dirilis pada 2003, dia menyatakan memaafkan sang ayah. Tapi, mengakui kalau penyiksaan yang dia alami dulu mempengaruhi caranya menjadi seorang ayah.
Meski begitu, kebencian sudah tertanam dan tidak bisa dikembalikan. Michael tidak bisa menyisakan rasa sayang kepada Joe. Dia bahkan tidak memasukkan Joe dalam daftar ahli warisnya.
Hubungan Michael dengan Joe memang rumit. Sejumlah pakar trauma mengatakan, korban abuse saat masih anak-anak sering kesulitan untuk mengungkapkannya. Michael acap kali memuji ayahnya, tapi tidak pernah membantah trauma yang diterima akibat ulah Joe.
Apa pun, Michael Jackson telah melewati banyak hal. Trauma masa lalu yang sering disimpannya tidak menghalanginya untuk sukses. Dia diam dalam rasa sakit yang tak terperi, tapi berhasil menaklukkan dunia yang mengganjarnya dengan titel Raja Pop.