
Film adaptasi komik, terutama superhero, punya daya tarik besar terhadap penonton. Bagi pecinta komik, itu adalah saat bagi mereka menyaksikan tokoh kesayangan mereka beraksi langsung dalam gambar gerak, bukan gambar diam. Tapi, tidak semua adaptasi ini sukses karena banyak juga yang gagal dan mengecewakan harapan penggemar.
Setelah dirilisnya Avengers: Endgame pada 2019, dunia film adaptasi buku komik telah mencapai titik jenuh sehingga sulit menembus box office. Beberapa adaptasi ini justru gagal total dan malah bikin rungkad studio pembuatnya. Bahkan, ada film yang menjadi akhir perjalanan sebuah waralaba adaptasi komik ini.
Penyebab kegagalan itu bukan hanya karena kejenuhan, tapi juga karena film itu gagal memenuhi harapan penonton, baik dari pemilihan pemeran, plot, sampai eksekusi ceritanya secara keseluruhan di layar kaca. Sebagian besar adaptasi gagal ini adalah reboot atau remake dari film sebelumnya dengan aktor, sutradara, dan kru baru yang diharapkan bisa menjadi penyegaran bagi franchise tersebut. Sayang, harapan itu tidak terwujud karena film itu malah rugi besar ketika tayang.
Apa saja film adaptasi komik yang gagal tampil di box office dan bikin kecewa penggemar? Mengutip data Box Office Mojo, simak ulasannya berikut!
10. Teenage Mutant Ninja Turtles: Out of the Shadows — 2016

Teenage Mutant Ninja Turtles: Out of the Shadows gagal meraih perhatian penggemar yang masih trauma dengan reboot properti ini pada 2014. Sebenarnya, film ini berusaha untuk memperbaiki banyak hal yang menjadi keluhan dan kritik penggemar dari film sebelumnya. Tapi, plotnya yang ke mana-mana dan penggunaan aksi CGI yang terlalu banyak membuat penggemar kecewa.
Di box office, Teenage Mutant Ninja Turtles: Out of the Shadows meraup pendapatan sebesar USD245,6 juta (Rp4,38 triliun). Tapi, angka itu belum mampu memenuhi break-even-point karena film tersebut dibuat dengan anggaran besar, yaitu USD135 juta (Rp2,41 triliun). Kekecewaan penggemar sedikit terobati dengan Teenage Mutant Ninja Turtles: Mutant Mayhem yang dirilis pada 2023 dan punya perbaikan signifikan terhadap desain karakter dan narasinya.
9. Ghost in the Shell — 2017

Ghost in the Shell adalah manga yang sangat kondang dengan adaptasi anime yang populer dan sangat disukai penggemar. Ketika Hollywood mengumumkan adaptasi live-action terhadap serial terkenal ini, orang langsung skeptis karena jarang ada adaptasi manga yang dilakukan mereka sukses. Skeptisme mereka pun terbukti.
Ghost in the Shell versi live-action ini kehilangan roh dan kedalaman dalam narasinya. Manganya yang terkenal gelap dan dalam itu diubah menjadi cerita balas dendam yang terlalu umum di film tersebut. Pada akhirnya, Ghost in the Shell pun gagal di pasaran dengan meraup USD169,8 juta (Rp3,03 triliun) di box office setelah dibuat dengan anggaran USD110 juta (Rp1,96 triliun).
8. The Flash — 2023

The Flash mengakhiri perjalanan panjang dan melelahkan DCEU di jagat semesta bersama industri perfilman. Film itu adalah seri terakhir franchise tersebut sebelum dirombak dan diubah menjadi DC Universe (DCU). Sayangnya, The Flash menutup perjalanan DCEU dengan banyak kontroversi dan hasil buruk di box office.
The Flash dikeluhkan karena narasinya yang berbelit-belit dan tidak menarik, meski film itu menjadi ajang nostalgia dengan tampilnya Michael Keaton sebagai Batman. Selain itu, faktor eksternal seperti kelakuan tak terpuji bintang utamanya, Ezra Miller, yang terjerat kasus grooming anak di bawah umur, membuat orang jadi ogah menontonnya. The Flash yang dibuat dengan anggaran USD200—220 juta (Rp3,57—3,92 triliun) hanya mampu membawa USD271,4 juta (Rp4,84 triliun) untuk Warner Bros.
7. Masters of the Universe — 2026

Adaptasi komik lama menjadi sebuah memang membutuhkan sedikit sentuhan masa kini agar bisa tetap relate dengan penonton, terutama penonton baru yang penasaran dengan film ini. Kalau tidak, maka film itu bisa gagal total di pasaran karena menutup ruang bagi anak-anak muda untuk bisa menikmatinya. Dan, inilah yang terjadi pada Masters of the Universe dan kegagalannya di box office.
Masters of the Universe sebenarnya berniat untuk memperkenalkan kembali karakter komik yang kondang di era 80-an itu kepada generasi saat ini. Sayangnya, film itu malah berkutat pada materi lama tanpa memberikan ruang bagi sentuhan masa kini untuk membuatnya relatable. Akibatnya, Masters of the Universe hanya menjadi ajang nostalgia dengan meraup USD113,7 juta (Rp2,03 triliun) dari anggaran USD170 juta (Rp3,03 triliun) yang digelontorkan Amazon MGM Studios.
6. Kraven the Hunter — 2024

Sony akhirnya menutup franchise Sony’s Spider-Man Universe (SSU) setelah merilis Kraven the Hunter. Film yang dibintangi Aaron Taylor-Johnson itu gagal total di pasaran dan studio itu menanggung kerugian besar karena tidak bisa mendapatkan laba apa pun dari perilisannya. Kraven the Hunter hanya mampu membawa pulang USD62,07 juta (Rp1,1 triliun), jauh dari modal yang dikeluarkan Sony untuk mendanai film itu sebesar USD110—130 million (Rp1,96—2,32 triliun).
Kraven the Hunter dirilis di puncak kejenuhan penggemar film terhadap genre superhero dan pendekatan yang dilakukan terhadap adaptasi komik ini tidak membantu sama sekali. Yang membuat kecewa penonton adalah film itu dibuat melenceng dari jalan cerita di komiknya. Kraven adalah villain di dunia Spider-Man, tapi, film itu malah membuat sosoknya menjadi seorang pembasmi kejahatan.
5. X-Men: Dark Phoenix — 2019

X-Men: Dark Phoenix seharusnya menjadi penutup manis franchise X-Men di Fox sebelum properti itu pulang kandang ke Marvel menyusul akuisisi Disney terhadap studio tersebut. Alih-alih, film itu malah gagal total dan menjadi cibiran penggemar dan kritikus karena penampilannya yang dinilai sangat buruk. Film itu dibuat dengan anggaran USD200 juta (Rp3,57 triliun) dan hanya mampu mendapatkan USD252,4 juta (Rp4,5 triliun) di box office.
Salah satu faktor terbesar yang menyebabkan kegagalan film ini adalah perilisannya. Dark Phoenix dirilis tepat setelah Avengers: Endgame yang membuat penonton punya harapan besar terhadap film yang juga menjadi puncak franchise superhero popular. Tapi, narasi yang diangkat ternyata malah membuat penggemar kecewa dan eksekusinya yang kurang mantap membuat Dark Phoenix gagal mendapatkan tempat di hati penggemar.
4. The Crow — 2024

Adaptasi komik The Crow menjadi film seperti sebuah kutukan. Film pertama mereka pada 1994 berakhir tragis setelah aktor utamanya, Brandon Lee, tewas di lokasi syuting. Usaha berikutnya juga tidak pernah sukses dengan aktor besar menolak terlibat dan film itu juga tidak pernah laku di box office.
Pada 2024, Lionsgate mencoba me-reboot The Crow dengan menggaet Bill Skarsgard. Tapi, alih-alih sukses, The Crow versi terbaru itu gagal karena tidak laku di bioskop dan mendapatkan kritikan tajam dari para kritikus serta penggemar. Pada akhirnya, The Crow hanya mengantongi USD24,2 juta (Rp432,4 miliar) di box office, meski dibuat dengan anggaran USD50 juta (Rp892,8 miliar).
3. Fantastic Four — 2015

Fantastic Four menjadi salah satu properti Marvel yang adaptasi komiknya paling susah di layar lebar. Fox pernah membuat dua film Family First yang kurang memuaskan penggemar. Pada 2015, mereka berusaha me-reboot film ini dengan menggaet Josh Trunk sebagai sutradaranya. Hasilnya?
Fantastic Four panen cacian dan makian dari penggemar dan kritikus. Film itu gagal total karena Fox terlalu turut campur dalam proses produksi sehingga hasil akhirnya jadi tak karu-karuan. Dibuat dengan anggaran USD120 juta (Rp2,14 triliun), Fantastic Four hanya mampu meraup USD167,88 juta (Rp2,99 triliun) di box office dan membuat Fox rugi besar sehingga sekuelnya pun urung diproduksi.
2. Hellboy — 2019

Hellboy adalah salah satu komik yang paling didambakan adaptasinya. Adaptasi pertama dan sekuelnya yang dirilis pada 2004 dan 2008 berhasil memenangkan kritik. Tapi, usaha ketiga untuk me-reboot film seri ini malah gagal total dan memicu banyak kritikan atas plot dan juga visual film tersebut.
Dibuat dengan anggaran USD50 juta (Rp892,8 miliar), Hellboy hanya mampu membawa USD55,06 juta (Rp983,26 miliar) di box office. Sejak saat itu, obrolan untuk melanjutkan film ini pun terhenti dan sepertinya tidak akan ada sekuelnya. Reboot low budget yang dirilis pada 2024 berujung pada perilisan video on demand karena film itu juga tidak laku.
1. Supergirl — 2026

Supergirl digadang-gadang bakal mengekor kesuksesan Superman yang dirilis setahun sebelumnya sebagai pembuka DCU yang digagas James Gunn. Sayangnya, film itu tidak laku di bioskop karena berbagai faktor, termasuk kejenuhan terhadap genre superhero dan gagalnya strategi promosi. Agak ironis memang karena Spider-Man: Brand New Day yang dirilis sekitar sebulan setelahnya malah meledak dan saat ini menjadi film terlaris 2026.
Supergirl dikritik penonton dan kritikus karena plotnya yang lemah dan ke mana-mana. Padahal, ini adalah usaha pertama DC untuk mengangkat karakter ini ke film solo setelah sebelumnya tampil di serial televisi. Mau bagaimana pun, Warner Bros. rugi banyak setelah perilisan Supergirl yang dibuat dengan anggaran USD170—186 juta (Rp3,03—3,32 triliun) dan hanya mampu meraup USD126,25 juta (Rp2,25 triliun) di box office.
Catatan: Konversi dari USD ke Rp menggunakan kurs yang berlaku saat artikel ini diunggah, tanpa menghitung inflasi dan faktor lainnya.