
Odyssey, puisi epik karya penyair Yunani, Homer, sudah berkali-kali diadaptasi menjadi film. Tahun ini, sutradara kondang Christopher Nolan, menghadirkan adaptasi puisi itu dengan versinya. Hasilnya, meski sama-sama berlatar dunia kuno, cerita heroik itu tampil sedikit berbeda.
Salah satunya adalah kostum Agamemnon. Raja itu tampil denan zirah yang lebih besar dibanding orang-orang di sekitarnya. Meski terasa kontroversial dan kurang otentik dengan ceritanya, penampilan Agamemnon justru terasa lebih memorable. Selain itu, kostum itu juga memberi rasa misterius terhadap penampilannya.
Sementara, pemilihan cast yang dianggap kontroversial seperti Lupita Nyong’o, Elliot Page, dan Travis Scott, sebenarnya tidak punya dampak besar. Berperan sebagai Helen yang dianggap sebagai wanita tercantik sejagat dan kembarannya, Clytemnestra, Lupita hanya tampil total 5 menit di film itu. Helen dan Clytemnestra hanya menjadi semacam karakter sampingan di Odyssey karena memang bukan mereka fokusnya.

Karakter Sinon yang diperankan Elliot juga tidak tampil lama. Namun, karakter ini punya peranan penting di sepanjang film itu. Sedangkan, Travis yang memerankan penyair istana Ithaca, hanya tampil tak kurang dari 2 menit di film tersebut.
Secara keseluruhan, Odyssey tidak terlalu melenceng dari cerita aslinya. Namun, pilihan kreatif Nolan-lah yang membuatnya sedikit lain dari yang lain. Sutradara itu berusaha memberikakn detail tentang beratnya perjalanan Odysseus demi bertemu lagi dengan anak dan istrinya setelah puluhan tahun terpisah.
Matt Damon dengan sangat baik menggambarkan beban moral Odysseus setelah berusaha pulang ke Ithaca begitu Perang Troya selesai. Dia mengemban tanggung jawab besar dengan membawa pasukannya kembali. Setiap keputusannya punya dampak besar tidak hanya pada dirinya, tapi juga anak buahnya.
Odysseus yang awalnya digambarkan sangat bijak, pada akhirnya dihadapkan dengan pilihan yang membuatnya terlihat egois. Tapi, dia sadar kalau semua itu adalah konsekuensi dari keputusannya dan juga para dewa. Belum lagi, dia harus mengalami amnesia atau dibuat amnesia oleh Calypso yang jatuh cinta padanya.

Di sisi lain, Anne Hathaway dengan sangat baik menggambarkan sosok Penelope yang setia, tapi rapuh. Dia kuat karena cintanya yang besar pada suaminya, Odysseus, tapi jadi rapuh karena anaknya, Telemachus, dan serbuan peminang yang ingin menjadi suaminya. Dia juga harus menghadapi tekanan dari para tetua untuk menikah lagi karena Odysseus sudah dianggap mati.
Salah satu kejutan datang dari akting John Leguizamo. Aktor kawakan itu memerankan Eumaeus, orang yang sangat setia kepada Odysseus dan percaya kalau dia masih hidup. John dengan sangat percaya diri membawakan karakter buta itu sehingga terasa sangat hidup dan emosinya pun sampai ke penonton dengan baik.
Cast lain yang juga patut mendapatkan apresiasi di film ini adalah Himesh Patel. Memerankan Eurylochus, tangan kanan Odysseus, Himesh mampu mengimbangi akting Matt sebagai bosnya. Dia mampu menciptakan nuansa dan atmosfer ketegangan begitu dia dan raja itu berselisih paham.
Di tangan Nolan, Odyssey bukan lagi sekadar film petualangan. Cerita ini berubah menjadi film fantasi dengan nuansa horor, thriller, dan juga drama percintaan yang sangat kuat. Orang akan dibuat tegang begitu Odysseus dan pasukannya berlabuh di sebuah pulau untuk mencari suplai makanan.

Setiap kali mereka berlabuh, penonton akan diajak menebak, apa yang akan terjadi pada mereka. Pertemuan dengan Cyclops menjadi cerita horor mengerikan yang sulit dilupakan. Apalagi, bentuk anak Poseidon itu sangat menyeramkan.
Belum lagi ketika mereka menghadapi Laestrygonians. Suku perang raksasa itu tanpa belas kasihan menebas pasukan Odysseus yang berlabuh di pulau mereka. Lalu, pasukan itu pun seolah dikutuk ketika bertemu penyihir kuat, Circe.
Nolan pun dengan detail mengisahkan cara pasukan itu untuk bertahan hidup. Ketegangan di atas kapal, beban psikologis karena terlalu lama di lautan lepas, hingga hilangnya rasa kemanusiaan digambarkan dalam perjalanan Odysseus itu. Sementara di istana, kekacauan terjadi karena para lelaki pengincar harta, takhta, dan wanita tak mau pergi.
Klimaks Odyssey lebih terasa seperti cerita cinta epik yang dramatis. Chemistry kuat antara Matt dan Anne begitu meyakinkan sehingga orang bakal larut dalam kisah mereka. Bagi penyuka dialog-dialog yang mendalam, interaksi mereka pasti terasa menusuk hati.

Film ini menitikberatkan pada perjalanan psikologis Odysseus. Banyak hal-hal yang relate dengan kehidupan nyata yang tejadi pada raja tersebut. Odysseus terus mempertanyakan setiap keputusan yang dia ambil dan pada akhirnya menyadari konsekuensi itu meski sangat berat dan dia terus didera rasa bersalah.
Oddysey tampil dengan pola slow burn. Di sepertiga awalnya, penonton akan disuguhi drama dalam istana yang bisa jadi bikin mereka ngantuk. Film ini baru terasa enak ditonton ketika POV-nya beralih ke Odysseus.
Beberapa adegan yang terasa terlalu gore, bisa jadi lebih brutal dan nyata kalau saja film ini tampil dengan rating Dewasa. Tapi, karena ratingnya Remaja atau 13 tahun ke atas, adegannya terasa kentang, meski emosinya sampai. Tidak ada adegan ranjang yang terlalu vulgar di film ini.
Overall, Odyssey adalah tontonan yang layak ditonton. Tapi, apakah bisa dinikmati, itu tergantung pada persepsi dan ekspektasi masing-masing. Film ini memang diangkat dari puisi epik, tapi pada dasarnya, Odyssey versi Nolan lebih terasa seperti film survival dan drama keluarga.
Sutradara: Christopher Nolan
Screenplay: Christopher Nolan
Pemeran: Matt Damon, Tom Holland, Anne Hathaway, Robert Pattinson,
Lupita Nyong’o, Samantha Morton, Zendaya, Charlize Theron, John Leguizamo
Durasi: 2 jam 52 menit
Distributor: Universal Pictures
Tahun Rilis: 2026