10 Film Murah, tapi Sukses Meraup Jutaan Dolar di Box Office, Malah Jadi Franchise

Film-film box office seperti The Terminator, Rocky, dan The Raid dibuat dengan biaya yang relatif murah kalau dibandingkan dengan film blockbuster. (Foto: Collider/IMDb/ScreenRant)

Film yang sukses di box office tidak selamanya dibuat dengan anggaran besar dan promosi gila-gilaan. Banyak film yang laku keras di bioskop justru diproduksi dengan biaya minim. Bahkan, banyak di antaranya yang berubah menjadi franchise yang populer selama bertahun-tahun.

Kalau dilihat, film-film ini bisa meraup ratusan juta dolar di box office meski tidak menampilkan aktor atau aktris terkenal di dalamnya. Promosinya juga tidak jor-joran. Sebagian besar justru sukses karena word of the mouth alias omongan mulut ke mulut dari penontonnya.

Banyak di antara film murah ini yang tidak hanya sukses di box office, tapi juga berhasil mendapatkan pengikut yang loyal. Franchise mereka juga berkembang berkat para pengikut ini. Bahkan, ada seri barunya yang justru lebih sukses ketimbang film aslinya.

Apa saja film berbiaya murah, tapi sukses di box office dan menjelma menjadi franchise? Simak ulasannya berikut!

10. The Raid — 2011

Foto: CBR

The Raid dibuat sutradara Gareth Evans setelah membuat dokumenter tentang pencak silat. Dia membuat The Raid dengan dana yang lumayan kecil, yaitu USD1,2 juta (Rp21 miliar). Film ini meraih perhatian banyak orang dan mendapatkan USD9,3 juta (Rp162,9 miliar) di seluruh dunia.

Gareth membuat lanjutan film ini lewat The Raid 2. Baik The Raid dan sekuelnya sama-sama mendapatkan pujian atas koreografinya. Sebenarnya, sudah ada rencana untuk membuat film ketiga, tapi dibatalkan.

9. El Mariachi — 1992

Foto: Collider

El Mariachi merupakan debut Robert Rodriguez sebagai sutradara dan penulis film. Dia membuat film pertamanya ini dengan anggaran minim, yaitu USD7.000 (Rp122,6 juta). Namun, di luar dugaan, El Mariachi malah mampu mengantongi USD2 juta (Rp35 miliar) di box office.

Angka pendapatan itu mungkin kecil dibandingkan film lain. Tapi, hasil itu sudah cukup bagi Robert untuk melanjutkan El Mariachi hingga menjadi trilogi dengan menggaet aktor terkenal Antonio Banderas sebagai pemeran utamanya. El Mariachi dilanjutkan dengan Desperado yang turut menampilkan Salma Hayek dan Once Upon a Time in Mexico yang juga dibintangi Johnny Depp.

8. Saw — 2004

Foto: IMDb

James Wan membuat film pertama Saw dengan dana yang lumayan kecil, yaitu USD1,2 juta (Rp21 miliar). Namun, berkat marketing dan promosi dari mulut ke mulut, film itu sukses besar di box office. Di akhir penayangannya, Saw meraup 103,8 juta (Rp1,8 triliun) secara global.

Saw segera mendapatkan penggemar dan pengikut loyal. Lions Gate melihatnya sebagai kesempatan untuk mengembangkan film ini sebagai franchise. Sejauh ini, Saw sudah merilis 10 film seri dengan Saw III menjadi yang paling laris di man film itu mendapatkan USD164 juta (Rp2,87 triliun) di box office.

7. The Terminator — 1984

Foto: Britannica

James Cameron harus merogoh koceknya sendiri hingga USD6,4 juta (Rp112,1 miliar) untuk mendanai The Terminator setelah Orion Pictures tidak mau membiayainya. Beruntung usaha kerasnya itu terbayarkan dengan sangat layak. The Terminator meraup USD78 juta (Rp1,3 triliun) di box office dan langsung mendapatkan perhatian dari pecinta film, terutama dengan tampilnya Arnold Schwarzenegger sebagai villain di situ.

The Terminator kemudian berkembang menjadi franchise besar yang mendatangkan untung bagi studio. Total, sudah ada 6 seri film ini yang dirilis ke pasaran. Dari semua itu, seri keduanya, Judgement Day (1991) masih menjadi yang paling laris dengan meraup USD515 juta (Rp9,02 triliun) di box office.

6. Annabelle — 2014

Foto: NY Times

Awalnya, Annabelle dibuat sebagai spin-off The Conjuring. Film ini berfokus pada boneka iblis yang mengerikan. Tak disangka, Annabelle yang dibuat hanya dengan dana USD6,5 juta (Rp113,89 miliar) ini malah meledak di box office dengan meraup USD257 juta (Rp4,5 triliun).

Kisah Annabelle pun diteruskan hingga menjadi tiga seri di The Conjuring Universe dengan film terakhir dirilis pada 2019. Hasil box office-nya juga selalu memuaskan dengan seri keduanya, Annabelle: Creation menjadi yang paling laris di antara trilogi ini dengan meraup USD306 juta (Rp5,36 triliun). Namun, film ini belum selesai dengan Warner Bros. berencana merilis seri keempatnya.

5. Rocky — 1976

Foto: The Mind Reels

Rocky nyaris batal dibuat setelah Sylvester Stallone gagal mendapatkan dana USD360.000 (Rp6,3 miliar) untuk membuat film tersebut. Namun, keberuntungan datang kepadanya setelah dia mendapatkan dana USD1 juta (Rp17,5 miliar) untuk membuat Rocky. Hasilnya tidak mengecewakan karena film tentang petinju itu mampu meraup USD225 juta (Rp3,94 triliun) di box office.

Kesuksesan ini membawa Rocky ke sekuel demi sekuel. Total, film ini sudah punya 6 serial untuk cerita utama dengan Rocky IV menjadi yang terlaris setelah meraup USD300,37 juta (Rp5,26 triliun). Rocky berlanjut ke trilogi Creed dengan menampilkan Michael B. Jordan sebagai pemeran utamanya.

4. Halloween — 1978

Foto: NY Times

Halloween telah menjadi film horor slasher legendaris yang disuka banyak orang. Ketika dirilis pada 1978, sutradaranya, John Carpenter, hanya punya waktu syuting 20 hari dengan anggaran yang mencapai USD325.000 (Rp5,69 miliar). Namun, hasil box office Halloween bikin bahagia karena meraup USD70,27 juta (Rp1,23 triliun).

Pencapaian itu dan dijadikannya Michael Myers menjadi ikon hoor cukup membuat produser film ini yakin untuk membuat sekuelnya. Total, Halloween telah memproduksi 12 sekuel dan remake dengan Halloween (2018), yang merupakan sambungan langsung film aslinya, menjadi yang paling laris. Dibuat dengan anggaran yang juga kecil, yaitu USD15 juta (Rp262,7 miliar), film itu meraup USD259,9 juta (Rp4,5 triliun).

3. Mad Max — 1979

Foto: IMDb

Film pertama Mad Max dirilis pada 1979. Mad Max dibuat di Australia dengan anggaran sekitar USD350.000 (Rp6,1 miliar). Dibintangi Mel Gibson, film murah itu malah laku keras di bioskop hingga meraup lebih dari USD100 juta (Rp1,75 triliun).

Setelah lebih dari 30 tahun, sutradara Mad Max, George Miller, berusaha menghidupkan kembali cerita film itu lewat Fury Road. Usaha ini sukses setelah film itu laku keras di bioskop dengan meraup USD380,4 juta (Rp6,66 triliun). Sayangnya, seri ketiganya, Furiosa, gagal mengulangi kesuksesan film sebelumnya.

2. The Blair Witch Project — 1999

Foto: IndieLisboa

The Blair Witch Project masih tercatat sebagai film indie paling sukses sampai saat ini. Film tersebut dibuat dengan anggaran USD60.000 (Rp1,05 miliar), tapi berhasil laku keras di box office hingga meraup USD248 juta (Rp4,3 triliun). The Blair Witch Project awalnya hanya diputar di festival.

Dirilis pada 1999, The Blair Witch Project adalah film pseudo-documentary yang berfokus pada tiga mahasiswa yang merekam dokumenter tentang mitos lokal yang dikenal sebagai Penyihir Blair. Setelah syuting, ditambah pascaproduksi dan marketing oleh Artisan Entertainment, film itu total memakan biaya sekitar USD200.000-750.000 (Rp3,5-13,1 miliar). Film ini sempat merilis seri kedua, tapi tidak sesukses seri pertamanya.

1. Paranormal Activity — 2007

Foto: CBR

Paranormal Activity menghebohkan dunia perfilman saat diluncurkan pada 2007. Film ini berfokus pada sepasang suami istri yang merasa rumah mereka dihantui dan memasang kamera untuk tahu apa yang sebenarnya terjadi. Paranormal Activity awalnya dikembangkan sebagai film indie dan dirilis di festival.

Modal yang dikeluarkan untuk membuat film ini pun tidak banyak, hanya USD15.000 (Rp262,74 juta). Namun, setelah DreamWorks mengakuisisinya dan memodifikasinya dengan tambahan biaya hingga USD200.000 (Rp3,5 miliar), film itu meledak di pasaran dan meraup untung besar di box office sebanyak USD194,2 juta (Rp3,4 triliun). Paranormal Activity pun berkembang menjadi franchise yang telah menelurkan 7 film.

Catatan: Konversi USD ke Rp memakai kurs yang berlaku saat artikel ini dibuat tanpa menghitung inflasi. Judul yang masuk daftar ini hanya mencakup film yang punya sekuel.

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *