
Dalam 6 bulan terakhir, jagat perfilman dunia sudah diwarnai berbagai macam film yang menarik. Di antaranya berhasil meledak dan menguasai box office. Tapi, ada juga yang malah jeblok dan membuat rugi studio pembuatnya.
Sejumlah film yang dirilis tahun ini terbukti gagal menarik minat penonton. Beberapa di antaranya dibuat dengan anggaran yang fantastis. Tapi, pendapatannya bikin meringis dompet para produsernya.
Sebagian besar faktor yang menyebabkan jebloknya film tersebut adalah kurangnya marketing atau promosi. Ada juga yang ternyata salah target audiens sehingga penontonnya tidak banyak. Akibatnya, film-film ini pun tak mampu memenuhi harapan dan modal besar yang digelontorkan pun menguap begitu saja.
Apa saja film paling rugi yang telah dirilis di awal 2026? Mengutip data Box Office Mojo, simak ulasan berikut!
10. Supergirl

Supergirl baru dirilis beberapa pekan di bioskop, tapi pendapatan pembukaan untuk film ini sudah dianggap mengecewakan. Saat ini, film itu meraup USD100,5 juta (Rp1,8 triliun) di box office. Angka ini dianggap kecil untuk sebuah film blockbuster genre superhero.
Supergirl dibuat dengan anggaran USD170 juta (Rp3,06 triliun) dan baru dianggap mendatangkan laba kalau bisa tembus USD315 juta di box office. Jalan masih panjang bagi film ini untuk meraup lebih banyak uang. Namun, prediksi awal menyebutkan, Warner Bros. akan rugi banyak akibat Supergirl.
9. Masters of the Universe

Masters of the Universe semakin mengokohkan status Jared Leto sebagai Pembunuh Waralaba. Aktor itu tampil sebagai Skeletor, lawan utama He-Man dan Masters of the Universe. Tapi, tentu saja, Jared bukan satu-satunya faktor yang membuat film itu tidak laku.
Masters of the Universe gagal menarik minat penonton karena salah menarget audiensnya. Film ini menarget penonton anak dan keluarga, tapi yang menonton kebanyakan orang-orang berusia 45 tahun ke atas yang ingin bernostalgia. Akibatnya, penampilan Masters of the Universe jeblok di box office karena hanya meraup USD110,5 juta (Rp1,99 triliun) dengan biaya produksinya mencapai USD200 juta (Rp3,6 triliun).
8. Jackass: Best and Last

Jackass: Best and Last sangat bergantung pada flashback dan struktur yang berulang. Film ini, menurut kritikus dan penggemar, malah tidak menonjolkan sisi organik film sebelumnya. Faktor ini menyebabkan kekecewaan penggemar franchise komedi tersebut.
Jackass: Best and Last sebenarnya tidak rugi-rugi amat di box office. Film ini meraup USD14,55 juta (Rp262 miliar) dan dibuat dengan anggaran USD10 juta (Rp180 miliar). Tapi, angka itu belum bisa membuat studio mendapatkan keuntungan karena hanya balik modal.
7. 28 Years Later: The Bone Temple

28 Years Later: The Bone Temple adalah sekuel 28 Years Later, yang dirilis tahun lalu. Kedua film ini merupakan bagian dari semesta 28 Days Later dengan 28 Years Later menjadi film pertama dan The Bone Temple yang kedua. Sayangnya, sekuel itu gagal di box office.
Film ketiga trilogi 28 Days Later itu meraup USD58,5 juta (Rp1,05 triliun) di box office. Angka itu masih berada di Bawah anggaran pembuatannya yang mencapai USD63 juta (Rp1,13 triliun). Salah satu penyebab kegagalan film ini adalah perilisannya yang terlalu dekat dengan film sebelumnya.
6. Mercy

Mercy punya kekuatan bintang sebagai pemeran utamanya, yaitu Chris Pratt dan Rebecca Ferguson. Film sci-fi thriller juga tidak berusaha tampil mewah karena anggarannya tidak sampai ratusan juta, yaitu USD60 juta (Rp1,08 triliun). Tapi, kesalahan jadwal rilis membuatnya tidak laku.
Mercy juga disambut dengan review negatif dari para kritikus. Kritikan dilayangkan pada twist-nya yang gampang ditebak, emosi yang kurang, dan plot yang berbelit-belit. Pada akhirnya, Mercy meraup USD54,7 juta (Rp984,7 miliar) di box office.
5. The Bride

The Bride adalah film kedua Maggie Gyllenhaal sebagai sutradara. Sayangnya, film horor ini gagal mendapatkan tempat di hati penonton. Padahal, The Bride dibintangi Christian Bale yang tidak perlu diragukan lagi kemampuan aktingnya.
The Bride tidak menarik penonton karena pacing, tone yang tidak konsisten, dan dialog aneh di antara karakternya. Tapi, masalah terbesarnya adalah pada anggaran. Film ini memakan biaya hingga USD90 juta (Rp1,62 triliun), tapi hanya meraup USD23,9 juta (Rp430 miliar).
4. Melania

Melania dibuat sebagai personal branding untuk ibu negara Amerika Serikat (AS) tersebut. Film dokumenter ini berusaha mengangkat kisah di balik layar Melania Trump. Namun, film ini langsung disambut tanpa antusiasme dari penonton.
Dengan anggaran pembuatan yang mencapai USD75 juta (Rp1,35 triliun), film ini hanya meraih USD16,66 juta (Rp299,9 miliar) di box office. Kegagalan disebabkan sejumlah faktor, terutama sentimen orang. Belum lagi, banyak kru film itu yang meminta nama mereka tidak masuk kredit karena ogah terjerat kontroversi.
3. Animal Farm

Animal Farm diangkat dari novel legendaris karya George Orwell dengan judul yang sama. Novel alegori satir itu sangat populer dan banyak penggemarnya. Adaptasinya ke film pasti menarik perhatian dan hasilnya pun musti menentukan laku atau tidaknya cerita tersebut.
Sayangnya, Animal Farm yang diadaptasi dalam bentuk animasi gagal total. Film yang dibuat dengan anggaran USD35 juta (Rp630 miliar) itu hanya meraup USD6,21 juta (Rp111,8 miliar) di box office. Banyak yang kecewa karena ceritanya yang lompat-lompat dan tone yang tidak sesuai dengan harapan audiens yang sebagian besar adalah penggemar bukunya.
2. Mother Mary

Mother Mary menampilkan sejumlah aktor dan aktris ternama, seperti Anne Hathaway, di filmnya. Namun, kurangnya emosi dalam cerita latar karakternya membuat film ini gagal meraih ketertarikan penonton. Belum lagi, Mother Mary yang seharusnya bergenre musikal, malah lebih berat ke dramanya.
Dibuat dengan anggaran sekitar USD20 juta (Rp360 miliar), film ini hanya mampu meraup USD$2,98 juta (Rp53,66 miliar) di box office. Mother Mary pun masuk menjadi salah satu film paling jeblok untuk A24. Buruknya penampilan film ini membuat studio itu memutuskan merilisnya di platform streaming online.
1. Desert Warrior

Desert Warrior akan tercatat sebagai film paling rugi dan nggak laku sepanjang sejarah. Film itu hanya mampu meraup USD742.066 (Rp13,36 miliar) di box office. Padahal, modal yang dikeluarkan untuk pembuatan film yang disokong Arab Saudi itu mencapai USD150 juta (Rp2,7 triliun).
Angka pendapatan Desert Warrior itu bahkan tidak bisa mengembalikan 1% dari modal awalnya. Film yang dibintangi Anthony Mackie ini gagal karena berbagai macam faktor dari penundaan tayang, tidak ada promosi besar-besaran, dan cerita yang tidak menarik. Desert Warrior bakal menggeser John Carter sebagai film bermodal besar, tapi boncos tak karuan saat tayang.
Catatan:
*) Angka pendapatan film ini diambil dari data Box Office Mojo saat artikel ini dibuat sehingga perubahan bisa sangat terjadi, terutama pada film yang masih tayang.
**) Konversi dari USD ke Rp memakai kurs yang berlaku saat artikel ini dibuat.